Memasuki paruh kedua 2026, perkembangan Proyek Infrastruktur Transportasi Massal Jakarta semakin terlihat melalui pembangunan jalur baru, perluasan jaringan yang sudah beroperasi, serta peningkatan integrasi antarmoda. MRT Jakarta Fase 2A masih dikerjakan menuju kawasan Kota, sementara LRT Jakarta kini telah mencapai Manggarai. Di sisi lain, pengembangan Transjakarta, KRL Commuter Line, fasilitas pejalan kaki, dan kawasan Transit Oriented Development atau TOD terus dilakukan untuk membuat perpindahan penumpang lebih mudah.

Perkembangan tersebut memperlihatkan arah kebijakan transportasi Jakarta yang tidak lagi hanya berfokus membangun satu jenis moda. Pemerintah mendorong MRT, LRT, KRL, Transjakarta, Mikrotrans, hingga layanan Transjabodetabek saling terhubung dalam satu ekosistem perjalanan. Pengembangan transportasi publik terintegrasi Jakarta juga semakin penting karena perluasan jaringan menuju kawasan penyangga Jabodetabek membutuhkan titik perpindahan yang nyaman dan efisien.

Proyek Infrastruktur Transportasi Massal Jakarta Terus Berkembang

Salah satu proyek terbesar yang masih berlangsung adalah MRT Jakarta Fase 2A. Jalur tersebut merupakan perpanjangan MRT Utara–Selatan dari Bundaran HI menuju Kota. Pada Agustus 2026, pekerjaan CP203 masih berlangsung di kawasan Glodok dan Stasiun Kota, termasuk pekerjaan struktur stasiun serta tunnel di sekitar simpang Asemka.

Pembangunan ini menjadi bagian dari perluasan jaringan MRT setelah koridor Lebak Bulus–Bundaran HI beroperasi. Kehadiran jalur menuju Kota nantinya memperpanjang jangkauan MRT ke kawasan Jakarta Barat dan Jakarta Utara bagian selatan sekaligus membuka peluang integrasi lebih luas dengan KRL, Transjakarta, dan moda lainnya.

MRT Jakarta Fase 2A Menuju Kota Terus Dikerjakan

Aktivitas pembangunan MRT Fase 2 terlihat jelas di kawasan Gajah Mada, Hayam Wuruk, Glodok, dan Kota. Pemerintah bahkan menerapkan rekayasa lalu lintas secara bertahap untuk mendukung pekerjaan CP203. Di Stasiun Kota, sejumlah tahap pekerjaan telah selesai dan pekerjaan berikutnya terus dilanjutkan.

Pada kawasan Glodok, pekerjaan juga memasuki beberapa tahapan struktur. Rekayasa lalu lintas Stage 4.2 dijadwalkan berlangsung 10 September hingga 9 Oktober 2026, kemudian dilanjutkan Stage 4.3 mulai 10 Oktober 2026 hingga 17 Mei 2027. Jadwal pekerjaan tersebut menunjukkan konstruksi MRT menuju Kota masih menjadi salah satu proyek transportasi besar Jakarta.

LRT Jakarta Kini Sudah Sampai Manggarai

Perkembangan penting lainnya terjadi pada 16 September 2026. Presiden Prabowo Subianto meresmikan pengoperasian LRT Jakarta lintas Kelapa Gading–Manggarai. Dengan beroperasinya Fase 1B, perjalanan LRT Jakarta tidak lagi berhenti pada koridor awal Kelapa Gading–Velodrome, tetapi diteruskan sampai Manggarai.

Sebelum diresmikan, pembangunan koridor Pegangsaan Dua–Manggarai telah mencapai progres 95 persen pada pertengahan Juli 2026. Keseluruhan koridor memiliki panjang sekitar 12,2 kilometer dan 11 stasiun. Lima stasiun baru Fase 1B berada di Rawamangun, Pramuka, Kayu Manis, Matraman, dan Manggarai.

Manggarai Semakin Penting Sebagai Hub Transportasi

Masuknya LRT Jakarta ke Manggarai membuat kawasan tersebut semakin strategis sebagai titik perpindahan transportasi publik. Pemerintah menyebut Manggarai kini mempertemukan LRT dengan KRL, Transjakarta, Transjabodetabek, dan Kereta Bandara.

Integrasi tersebut merupakan bagian penting dari jaringan transportasi massal Jakarta terbaru. Penumpang dari kawasan Kelapa Gading, Rawamangun, Pramuka, dan Matraman memperoleh akses menuju Manggarai tanpa harus sepenuhnya bergantung pada kendaraan pribadi. Dari Manggarai, perjalanan kemudian dapat dilanjutkan menggunakan moda lain.

Dukuh Atas Dikembangkan Menjadi Simpul Enam Moda

Festival Kuliner Nusantara Bsd Tangerang

Selain Manggarai, kawasan Dukuh Atas juga terus diperkuat sebagai pusat integrasi transportasi. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta pada Juni 2026 mencanangkan pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas yang ditargetkan selesai pada akhir 2028.

Infrastruktur tersebut dirancang mengintegrasikan enam moda, yaitu MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL Commuter Line, Kereta Bandara Soekarno-Hatta, Transjakarta, dan LRT Jakarta. Pedestrian deck diharapkan memperpendek jarak berjalan kaki serta membuat perpindahan antarmoda lebih nyaman.

KRL Diperkuat dengan Kehadiran Stasiun JIS

Pengembangan transportasi massal juga dilakukan pada jaringan Commuter Line. Pada 22 Juni 2026, Menteri Perhubungan bersama Gubernur Jakarta meresmikan aktivasi operasional terbatas Stasiun Jakarta International Stadium atau Stasiun JIS di Sunter, Jakarta Utara.

Stasiun JIS berada pada lintas Commuter Line Tanjung Priok relasi Jakarta Kota–Tanjung Priok, tepatnya di antara Stasiun Ancol dan Tanjung Priok. Kehadirannya memberikan akses transportasi berbasis rel menuju kawasan JIS sekaligus terhubung dengan jaringan KRL yang lebih luas melalui Kampung Bandan dan Jakarta Kota.

Transjakarta Terus Memperbesar Armada Bus Listrik

Pengembangan infrastruktur tidak hanya berbentuk rel dan stasiun. Transjakarta tetap menjadi tulang punggung angkutan berbasis jalan dengan jaringan yang menjangkau berbagai kawasan Jakarta. Pemerintah DKI menyebut pada 2026 Transjakarta mengoperasikan sekitar 4.792 armada, termasuk 500 bus listrik.

Elektrifikasi tersebut menjadi bagian dari upaya mengembangkan transportasi umum rendah emisi Jakarta. Selain penambahan armada, jaringan Transjakarta terus diperkuat melalui pembukaan layanan, perbaikan halte, koneksi ke stasiun, serta integrasi dengan MRT, LRT, dan KRL.

Integrasi Transjakarta dengan Stasiun Terus Diperkuat

Salah satu contoh integrasi terlihat di kawasan Grogol. Pemerintah sedang membangun Flyover Latumenten sekaligus fasilitas pendukung pejalan kaki dan halte Transjakarta yang dirancang terintegrasi dengan Stasiun Grogol. Pada Juli 2026, progres pembangunan flyover tersebut mencapai 55,2 persen dan ditargetkan selesai 15 Desember 2026.

Pendekatan tersebut menunjukkan proyek transportasi Jakarta tidak hanya mengejar pembangunan jalur baru. Akses pejalan kaki, halte, JPO, dan kawasan TOD juga menjadi bagian penting karena keberhasilan angkutan umum sangat dipengaruhi kemudahan masyarakat mencapai stasiun atau halte.

MRT East West Menjadi Proyek Besar Berikutnya

Selain Fase 2A, Jakarta mempersiapkan pengembangan MRT Lintas Timur–Barat atau East–West Line. Proyek ini memiliki skala lebih luas karena diarahkan untuk membangun konektivitas dari wilayah barat menuju timur Jakarta dan kemudian tersambung dengan kawasan penyangga.

Keseriusan pengembangan tersebut juga terlihat dalam APBD DKI Jakarta 2026. Pemerintah mengalokasikan sekitar Rp255,50 miliar untuk pengadaan lahan pembangunan MRT East–West, sementara pengadaan lahan MRT Fase 2 mendapat alokasi sekitar Rp10,18 miliar.

Jaringan MRT Nantinya Tidak Berhenti di Jakarta

Pengembangan East–West Line juga membuka peluang jaringan MRT meluas menuju Tangerang. Koridor Kembangan–Balaraja sedang melalui tahapan studi dan persiapan tersendiri sehingga belum dapat disamakan dengan konstruksi MRT Fase 2A yang sudah berlangsung di pusat Jakarta.

Jika jaringan tersebut terealisasi, sistem MRT akan semakin bersifat metropolitan karena melayani perjalanan lintas wilayah. Konsep ini penting mengingat perjalanan harian Jakarta sangat berkaitan dengan Tangerang, Bekasi, Depok, Bogor, serta kota-kota penyangga lainnya.

Integrasi Menjadi Kunci Transportasi Jakarta

Membangun banyak jalur tidak otomatis menghasilkan sistem transportasi yang efektif apabila perpindahan antarmoda sulit. Karena itu, integrasi fisik stasiun, halte, trotoar, pedestrian deck, sistem pembayaran, hingga layanan pengumpan menjadi bagian penting dalam pengembangan transportasi Jakarta.

Kementerian Perhubungan juga menekankan kemudahan akses menuju simpul transportasi sebagai faktor penting agar masyarakat bersedia berpindah dari kendaraan pribadi ke angkutan umum. MRT, LRT, KRL, BRT, dan layanan feeder perlu berfungsi sebagai satu jaringan perjalanan, bukan sistem yang berdiri sendiri.

Tantangan Proyek Infrastruktur Transportasi Massal Jakarta

Pembangunan infrastruktur skala besar tetap menghadapi tantangan, mulai dari pembebasan lahan, pembiayaan, rekayasa lalu lintas selama konstruksi, hingga koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Pekerjaan MRT di kawasan Glodok dan Kota, misalnya, membutuhkan pengaturan lalu lintas berkala karena konstruksi berlangsung di koridor jalan yang padat.

Tantangan berikutnya adalah meningkatkan jumlah pengguna setelah infrastruktur tersedia. Pemerintah tidak hanya membutuhkan jalur baru, tetapi juga akses yang mudah, tarif terjangkau, jadwal andal, keamanan, kenyamanan, dan konektivitas perjalanan dari titik awal hingga tujuan akhir.

Proyek Infrastruktur Transportasi Massal Jakarta Mengarah ke Sistem Metropolitan

Arah pengembangan menunjukkan Jakarta bergerak dari sistem transportasi berbasis kota menuju jaringan metropolitan Jabodetabek. MRT diperluas, LRT mencapai Manggarai, KRL memperoleh simpul baru, sementara Transjakarta dan Transjabodetabek memperkuat konektivitas berbasis jalan.

Koordinasi antaroperator juga terus dikembangkan. Pada Agustus 2026, Pemprov DKI bersama Transjakarta, KAI, KAI Commuter, LRT Jabodebek, MRT Jakarta, dan LRT Jakarta menandatangani kerja sama untuk memperkuat resiliensi serta koordinasi transportasi publik.

Proyek Infrastruktur Transportasi Massal Jakarta pada 2026 berkembang melalui beberapa proyek sekaligus. MRT Fase 2A menuju Kota masih dalam konstruksi, sementara LRT Jakarta Kelapa Gading–Manggarai resmi beroperasi pada 16 September 2026. Stasiun JIS juga mulai diaktifkan untuk memperkuat jaringan KRL, sedangkan Transjakarta terus mengembangkan armada dan integrasi halte.

Tahap berikutnya tidak hanya mengenai pembangunan jalur baru, tetapi bagaimana MRT, LRT, KRL, Transjakarta, Kereta Bandara, dan angkutan pengumpan dapat benar-benar terhubung. Pembangunan Pedestrian Deck Dukuh Atas, pengembangan kawasan TOD, elektrifikasi bus, serta persiapan MRT East–West memperlihatkan bahwa arah transportasi Jakarta semakin berfokus pada jaringan antarmoda yang terintegrasi.

FAQ

Apa proyek transportasi massal yang sedang dibangun di Jakarta?

Salah satu proyek utama yang masih dalam konstruksi adalah MRT Jakarta Fase 2A menuju Kota. Pemerintah juga melanjutkan berbagai proyek integrasi antarmoda dan mempersiapkan pengembangan MRT East–West.

Apakah LRT Jakarta sudah sampai Manggarai?

Ya. LRT Jakarta lintas Kelapa Gading–Manggarai resmi dioperasikan pada 16 September 2026 setelah peresmian oleh Presiden Prabowo Subianto.

Berapa panjang LRT Jakarta sampai Manggarai?

Keseluruhan koridor Pegangsaan Dua–Manggarai memiliki panjang sekitar 12,2 kilometer dengan 11 stasiun. Lima stasiun baru Fase 1B berada di Rawamangun, Pramuka, Kayu Manis, Matraman, dan Manggarai.

Apa fungsi Pedestrian Deck Dukuh Atas?

Pedestrian Deck Dukuh Atas dirancang memperkuat integrasi MRT Jakarta, LRT Jabodebek, KRL, Kereta Bandara, Transjakarta, dan LRT Jakarta. Proyek tersebut ditargetkan rampung pada akhir 2028.

Apakah Jakarta masih mengembangkan MRT baru?

Ya. Selain MRT Fase 2A, pemerintah mempersiapkan MRT East–West. APBD DKI Jakarta 2026 mencantumkan sekitar Rp255,50 miliar untuk pengadaan lahan pembangunan koridor tersebut.