Impian untuk menjadikan Jakarta kota global masa depan bukan lagi sekadar wacana, melainkan sebuah agenda strategis yang sedang diupayakan dengan serius oleh pemerintah dan para pemangku kepentingan. Ibu Kota Indonesia ini sedang melakukan refleksi dan penataan ulang untuk meningkatkan daya saingnya di panggung internasional. Cita-cita Jakarta menuju kota global ini ditegaskan dalam berbagai forum, salah satunya pada Kongres Daerah Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) Jakarta 2025, di mana para ahli merumuskan langkah-langkah konkret untuk mewujudkan visi tersebut. Namun, jalan menuju status kota global seperti New York, London, atau Tokyo tidaklah mudah, karena saat ini posisi Jakarta dalam Global Cities Index 2024 masih berada di peringkat 284, dengan catatan khusus pada aspek kualitas hidup dan lingkungan yang masih perlu ditingkatkan secara signifikan.

Membangun Jakarta kota global dan berbudaya memerlukan pendekatan yang holistik dan berkelanjutan. Visi Jakarta kota global bukan hanya tentang gedung pencakar langit dan pusat finansial yang megah, tetapi lebih kepada penciptaan kota yang layak huni, inklusif, serta berakar pada sejarah dan kekayaan budayanya yang unik.  Menyelesaikan persoalan-persoalan mendasar ini menjadi kunci sebelum Jakarta dapat benar-benar melesat sebagai kota yang diakui secara global.  Jakarta kota global masa depan yang tidak hanya makmur secara ekonomi, tetapi juga nyaman dan berkelanjutan bagi seluruh warganya.

Memahami Konsep dan Tantangan Menuju Kota Global

Sebelum membahas strateginya, penting untuk memahami apa sebenarnya makna dari Jakarta menuju kota global. Dalam definisi akademis dan praktis, kota global adalah pusat penting yang mengatur dan mengoordinasi arus ekonomi, keuangan, budaya, dan informasi dunia. Kota-kota seperti New York, London, dan Tokyo menjadi contoh karena peran mereka yang sentral dalam sektor jasa, keuangan, manajemen, hukum, serta sebagai tuan rumah berbagai kegiatan internasional. Untuk mencapai level tersebut, sebuah kota harus memiliki daya saing yang tinggi, infrastruktur kelas dunia, lingkungan yang mendukung, dan yang tak kalah penting, kualitas hidup yang baik bagi penduduknya.

Berdasarkan paparan Hendricus Andy Simarmata, Senior Planner IAP, dalam Kongres Daerah IAP Jakarta 2025, ada beberapa tantangan besar yang harus diatasi Jakarta. Peringkat 284 dalam Global Cities Index 2024 Oxford Economics menunjukkan bahwa Jakarta kota global masa depan masih memiliki pekerjaan rumah yang sangat berat, terutama pada aspek “quality of life” dan “environment”. Skor yang rendah di kedua aspek ini mencerminkan persoalan sehari-hari yang dihadapi warga: polusi udara, keterbatasan ruang terbuka hijau, sistem drainase yang kerap kali gagal menahan banjir, serta transportasi publik yang masih belum optimal sehingga memicu kemacetan parah. Oleh karena itu, visi Jakarta kota global haruslah dibangun dari fondasi yang kuat, yakni dengan terlebih dahulu menyelesaikan masalah-masalah fundamental perkotaan yang telah lama menjadi momok.

Tiga Pendekatan Strategis: Dietary, Diplomasi, dan Institusionalisasi

Untuk menjawab tantangan tersebut, para ahli merumuskan tiga pendekatan strategis terpadu yang harus dijalankan secara simultan. Pendekatan ini dirancang agar Jakarta menuju kota global dengan cara yang terstruktur dan berkelanjutan.

  1. Pendekatan Dietary (Penataan Peran dan Beban): Pendekatan ini bertujuan untuk “mengurangi beban” Jakarta dengan membagi peran dan fungsi dengan wilayah sekitarnya. Seiring dengan rencana pemindahan ibu kota negara ke Nusantara di Kalimantan Timur, peran Jakarta akan lebih difokuskan sebagai pusat ekonomi. Inti dari pendekatan ini adalah meningkatkan konektivitas transportasi publik antarkota dan secara agresif meminimalkan penggunaan kendaraan pribadi di dalam kota. Program konkretnya meliputi pembangunan sewerage system (sistem pengolahan air limbah) yang komprehensif, pengurangan polusi udara, penyediaan affordable housing (perumahan terjangkau), perluasan ruang terbuka hijau, regenerasi taman kota, serta perbaikan kampung secara menyeluruh dari hulu ke hilir.

  2. Pendekatan Diplomasi (Memperkuat Jejaring dan Branding Global): Sebuah Jakarta kota global dan berbudaya harus aktif di panggung dunia. Pendekatan ini menekankan pentingnya keikutsertaan Jakarta dalam komunitas kota global, penyelenggaraan acara dan event internasional berkelas dengan fasilitas standar dunia, serta menjalin dan mengaktifkan program sister city (kota kembar). Selain itu, branding atau pencitraan Jakarta sebagai kota yang terbuka, berbudaya, dan inovatif harus terus digaungkan. Diplomasi kota ini bertujuan untuk menarik investasi, pariwisata, dan talenta global, sekaligus memposisikan Jakarta sebagai mitra yang setara dengan kota-kota besar lainnya di dunia.

  3. Pendekatan Institusionalisasi (Penetapan Kebijakan dan Kolaborasi): Visi besar akan sia-sia jika tidak diwujudkan dalam kebijakan yang konkret. Pendekatan institusionalisasi menuntut pemerintah untuk menurunkan filosofi Jakarta kota global masa depan ke dalam peraturan tata ruang dan kebijakan pembangunan yang jelas dan konsisten. Hal ini harus melibatkan kolaborasi erat dengan dunia usaha, dunia pendidikan, dan lembaga penelitian. Peningkatan daya saing sektor budaya dan industri kreatif juga harus menjadi prioritas kebijakan. Terakhir, sosialisasi visi ini secara masif melalui berbagai media dan pelibatan anak muda sebagai ambassador atau duta kota global adalah kunci untuk membangun kesadaran dan dukungan kolektif dari seluruh elemen masyarakat.

Fokus Pemerintah: Menuntaskan Banjir, Macet, dan Panas Ekstrem

Sementara para ahli merancang strategi jangka panjang, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta di bawah kepemimpinan Gubernur saat ini memiliki fokus program yang sangat praktis dan langsung menyentuh kebutuhan mendesak warganya. Seperti diungkapkan oleh Nirwono Joga, Staf Khusus Gubernur Bidang Pembangunan dan Tata Kota, tiga isu utama yang menjadi prioritas adalah masalah banjir, kemacetan lalu lintas, dan panas ekstrem. Menyelesaikan ketiga masalah ini adalah prasyarat mutlak bagi terwujudnya Jakarta kota global dan berbudaya yang layak huni.

Berbagai program telah dan sedang dijalankan untuk mengatasi ketiga tantangan ini. Untuk mengatasi banjir dan meningkatkan ketahanan iklim, pemerintah fokus pada pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) yang berfungsi sebagai daerah resapan, pembangunan urban micro park (taman kecil di perkotaan), serta rehabilitasi danau dan waduk. Penanaman mangrove di wilayah pesisir utara Jakarta juga digiatkan untuk melindungi garis pantai dari abrasi dan banjir rob. TOD adalah konsep pengembangan kawasan campuran yang padat dan terintegrasi dengan stasiun transportasi massal, sehingga mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Selain itu, penerapan konsep green and smart building (bangunan hijau dan cerdas) didorong untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi emisi karbon di tingkat gedung.

Peran Akademisi dan Masyarakat dalam Transformasi Jakarta

Perjalanan Jakarta menuju kota global tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Suryono Herlambang, Dosen Perencanaan Wilayah dan Kota Universitas Tarumanagara, dalam forum yang sama mengingatkan bahwa globalisasi membawa dua sisi mata uang: peluang ekonomi dan investasi yang besar, tetapi juga risiko seperti ketimpangan sosial, tekanan lingkungan, dan beban infrastruktur yang semakin berat. Oleh karena itu, proses perencanaan harus partisipatif dan inklusif.

Revisi regulasi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTR) Jabodetabek-Punjur disebutkan sebagai momentum penting untuk melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam diskusi yang lebih terbuka. Masyarakat sipil, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas harus dilibatkan secara aktif dalam merancang Jakarta kota global masa depan agar hasilnya benar-benar mencerminkan kebutuhan dan aspirasi bersama, serta meminimalkan dampak negatif dari pembangunan yang cepat. Pendekatan dari bawah (bottom-up) ini sangat penting untuk memastikan bahwa transformasi Jakarta tidak meninggalkan siapapun di belakang dan tetap berakar pada nilai-nilai lokal.

Roadmap Menuju 2030: Target dan Harapan

Meski tantangan berat menghadang, optimisme untuk mewujudkan visi Jakarta kota global tetap tinggi. Meskipun satu referensi target spesifik (seperti masuk 50 besar pada 2030) tidak dapat diakses, semangat untuk mencapai posisi yang jauh lebih baik di peta global sangat terasa dalam berbagai diskusi. Peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027 dijadikan sebagai milestone atau tonggak sejarah untuk mempercepat berbagai transformasi. Target jangka menengah dan panjang pasti telah dirumuskan, dengan indikator pencapaian yang terukur dalam aspek ekonomi, lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Kunci keberhasilan Jakarta kota global masa depan terletak pada konsistensi dan keberlanjutan kebijakan lintas periode kepemimpinan. Program-program yang telah dirancang dengan matang, seperti pendekatan dietary, diplomasi, dan institusionalisasi, perlu dilaksanakan secara berkesinambungan tanpa terputus oleh dinamika politik. Kolaborasi yang erat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, dan masyarakat adalah satu-satunya jalan untuk mengatasi kompleksitas masalah yang dihadapi kota metropolitan sebesar Jakarta.

Jakarta yang Kita Impikan

Impian menjadikan Jakarta kota global dan berbudaya adalah impian kolektif bagi kemajuan bangsa. Ini bukan tentang mengejar gelar semata, tetapi tentang membangun kota yang memberikan kehidupan yang lebih baik bagi seluruh warganya: kota yang aman dari banjir, lancar transportasinya, sejuk udaranya, hijau pemandangannya, dan kaya akan dinamika budaya serta ekonomi. Perjalanan Jakarta menuju kota global adalah marathon, bukan sprint. Dibutuhkan ketekunan, kecerdasan kolektif, dan komitmen yang kuat dari semua pihak.

Dengan fondasi perencanaan yang baik, fokus pada penyelesaian masalah mendasar, dan pelibatan seluruh elemen masyarakat, Jakarta kota global masa depan bukanlah hal yang mustahil. Saat usia Jakarta mendekati setengah milenium, momen ini adalah kesempatan emas untuk menata ulang, berbenah, dan melangkah percaya diri menuju panggung dunia, dengan tetap membawa jiwa dan identitasnya sebagai kota yang berakar pada sejarah Nusantara.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

1. Apa yang dimaksud dengan “Jakarta kota global”?
Jakarta kota global masa depan merujuk pada visi untuk mengembangkan Jakarta menjadi pusat penting dalam jejaring ekonomi, keuangan, budaya, dan politik global, setara dengan kota-kota seperti New York, London, atau Tokyo. Kota global berfungsi sebagai penghubung utama dalam arus perdagangan, investasi, dan informasi dunia.

2. Apa saja tantangan terbesar Jakarta untuk menjadi kota global?
Berdasarkan analisis para ahli, tantangan terbesar adalah kualitas hidup dan lingkungan yang masih rendah, yang tercermin dari peringkat 284 dalam Global Cities Index 2024. Secara spesifik, tiga isu prioritas yang menjadi fokus pemerintah adalah banjir, kemacetan lalu lintas, dan panas ekstrem akibat perubahan iklim.

3. Strategi apa saja yang direncanakan untuk mewujudkan visi ini?
Para perencana kota merumuskan tiga pendekatan strategis terpadu: (1) Dietary: menata ulang peran Jakarta dengan wilayah penyangga dan memperbaiki infrastruktur dasar; (2) Diplomasi: aktif dalam jejaring global dan membangun branding kota; (3) Institusionalisasi: menerjemahkan visi menjadi kebijakan konkret dan melibatkan semua pihak.

4. Bagaimana peran masyarakat dalam transformasi Jakarta?
Peran masyarakat, akademisi, dan pelaku usaha sangat krusial. Transformasi menuju Jakarta menuju kota global memerlukan perencanaan yang partisipatif dan inklusif untuk memastikan bahwa pembangunan berjalan adil, berkelanjutan, dan tidak menimbulkan ketimpangan sosial. Masyarakat diajak untuk terlibat dalam diskusi publik, seperti dalam proses revisi Rencana Tata Ruang.

5. Kapan target Jakarta menjadi kota global ingin dicapai?
Pemerintah dan para ahli memiliki target jangka panjang untuk terus meningkatkan peringkat global Jakarta. Peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027 dijadikan sebagai milestone penting untuk mempercepat berbagai transformasi. Meski ada optimisme untuk mencapai posisi yang jauh lebih baik, pencapaian status kota global sejati adalah proses berkelanjutan yang membutuhkan konsistensi kebijakan lintas periode kepemimpinan.